
bapak SUKIMUN dan masWAWAN
Manusia Dapat Dihancurkan; Manusia Dapat Dimatikan; Tetapi Manusia Tidak Dapat Dikalahkan, Selama Manusia Itu Masih Setia Pada Hatinya Sendiri Atau Ber-SH pada dirinya sendiri. .


Di dalam suatu organisasi khususnya pencak silat pasti di dalamnya ada dua peran utama dalam latihan yaitu pelatih dan siswa (yang dilatih, atlit). Untuk menjadi seorang pelatih sebenarnya terlebih dahulu mengikuti penataran pelaih di cabang terlebih dahulu. Pelatih juga adalah seorang manusia yang pasti mempunyai perbedaan bagaimana Tipe, dan ciri-ciri seorang pelatih di hadapan atlit maupun siswanya. Berikut adalah beberapa contoh Tipe Pelatih menurut beberapa tokoh dan bagaimana cara melatih yang efektif dan apa saja peran seorang pelatih.
Tipe Pelatih
Tutko dan Richard (1971) membagi pelatih menjadi lima kategori: the authoritarion coach, the nice-guy coach, the intense or driven coach, the easy going coach dan the business coach.
Setiap pelatih memiliki kelebihan dan kekurangan, karena itu tidak ada pelatih murni ideal atau sempurna. Kebanyakan pelatih melakukan metode coba-salahuntuk mendapatkan bentuk latihan yang paling efektif. Untuk itu sering kali terdapat tumpang tindih dari kelima kategori di atas, namun tetap ada yang dominant.
a. The authoritarion coach
Cirri-ciri pelatih yang otoriter adalah:
1. disiplin yang keras
2. memaksakan peraturan menggunakan hukuman
3. kaku dalam pelaksanaan program latihan
4. dapat bersikap kasar, sadis dan sering mencaci
5. kurang ramah dan terdapat jarak dengan anak didik
6. punya planning program yang efektif
7. taat menjalankan agama
8. sering mempunyai prasangka
9. lebih suka asisten pelatih yang lemah
10. dalam memotivasi atletnya memakai system ancaman
keuntungan: anak didiknya memiliki disiplin yang tinggi, agresif, percaya diri, berani, terorganisasi, semangat dan kondisi fisik yang baik
kerugiannya: jika ada kegagalan akan saling menyalahkan, dan bagi atlet yang seneitif biasanya tidak kuat menerima perlakuan keras dan akhirnya mengundurkan diri, pelatih otoriter ini tidak disukai dan ditakuti atlet.
b. the nice-guy coach
Tipe ini berlawanan dengan tipe otoriter, pelatih nice-guy memiliki pribadi yang baik, mengesankan, fleksibel, terbuka akrab dengan atlet dan memperhatikan kesejahteraan atlet. Dalam memberikan motivasi berupa bantuan positif daripada mencela dan tidak segan memberi penghargaan bila atletnya berhasil. Mempunyai sifat yang terbuka dan pelaksanaan program latihan yang fleksibel
Keuntungan: terbentuknya team yang padu, rileksa dan tampil sesuai dengan harapan dan apabila timbul masalah dari atlet akan lenih mudah ditangani.
Kerugian: tidak mempunyai kemampuan atau lemah, ragu-ragu dan terlalu menyalahkan diri sendiri
c. the intense or driven coach
Tipe pelatih ini memiliki banyak kesamaan dengan tipe pelatih otoriter, kesamaannya dalam hal disiplin, kemampuan dan agesifitasnya. Sedangkan perbedaannya pada segi emosi dan sering menghukum. Sikapnya tenang, tidak kasar dan otoriter.
Ciri-cirinya:
a. tidak pernah puas
b. suka mendramatisasi keadaan
c. menghabiskan waktu untuk hal-hal yang berhubungan dengan kepelatihan
d. punya analisis data yang lengkap tentang lawan yang akan dihadapi
e. memotivasi atletnya dengan contoh diri sendiri
Keuntungan: para atlet selalu merasa siap bertanding dan selalu berpijak pada intruksi pelatih.
Kerugian: atlet merasa takut karena merasa banyak dituntut, terutama bagi atlet istimewa. Tidak mau mengerti bahwa atlet juga mengalami kejenuhan. Hal ini dianggap malas, atlet merasa malu karena pelatih sering bertindak emosional pada saat pertandingan.
d. the easy going coach
Pelatih ini tampil dengan tanpa beban dan menganggap pertandingan adalah sesuatu yang menarik dan ia menikmatinya.
Ciri-cirinya:
1. kurang serius menangani atlet, relaks terkesan pasif
2. tidak punya jadwal yang teratur (jadwalnya baku)
3. tidak mudah panik dan emosi mudah terkontrol
4. semua berjalan dibawah control namun terkesan malas
Keuntungan: atlet merasa tidak terlalu tegang, saran mudah diingat untuk dilaksanakan.
Kerugian: atlet cenderung menyalahkan pelatihnya apabila gagal, kondisi fisik atletnya (kadang fit, kadang kurang fit). Timbulnya perasaan dari atlet merasa tidak diperhatikan.
e. the business coach
Ciri-cirinya:
1. pendekatannya terhadap olahraga sangat terencana dan terorganisir
2. mengenali secara detail yang menyangkut prestasi atlet berdasarkan logika
3. tingkat intelegensinya tinggi
4. menganalisa secara obyektif tentang kelebihan dan kelemahan lawan
5. pragmatis dan tekun dalam mencari metode-metode yang baru
Keuntungan: memiliki strategi untuk sukses,atlet punya rasa percaya diri sendiri yang kuat:
Kerugian: atlet dapat merasa kehilangan identitas dan individualitasnya karena hamper semua detail dirinya dianalisa.
Pelatih yang Efektif
Seorang pelatih dituntut untuk bertingkah laku tertentu sesuai dengan perannya di masyarakat, jika ia ingin disebut pelatih yang baik. Puoss(1981) mengemukakan empat kualitas yang haris dimiliki oleh seorang pelatih yang baik/efektif yaitu:
1. pengetahuan teknik olahraga, menguasai dasar keterampilan, peraturan pertandingan, teknik, taktik, dsb.
2. kemampuan untuk mengenal karakteristik dan kebutuhan para anak didik (keadaan fisik, mental, emosi, latar belakang kehidupan sosialnya)
3. keteraampilan mengajar
4. kepribadian dan karakter yang baik adalah:
• memiliki semangat yang tinggi, dedikasi yang tinggi dan memiliki rasa humor
• mampu mengendalikan emosi, jujur, bertindak atas dasar kebenaran
Peran Pelatih
Seorang pelatih bukan hanya mengurusi hal yang berhubungan dengan telnis olahraga saja, tetapi pelatih juga harus berperan sebagai guru, orangtua, konselor, bahkan psikolog. Sebaliknya peserta didik harus mempunyai kepercayaan penuh terhadap pelatihnya. Pelatih harus mampu mengerti secara total anak didiknya tanpa ia sendiri kehilangan identitas pribadinya.
Akhir kata, jika pelatih dapat menggunakan ilmu pengetahuannya yang dimiliki mengenai segala sesuatu tentang peserta didik, lingkungan dan segala aspeknya yang berhubungan dengan kepelatihan ditambah dengan kemampuan utuk mengenali diri sendiri, maka dapat dipastikan akan mampu mengemabangkan pandangan hidup yang positif. Bukan saja mengenai kepalatihan, tetapi juga sukses kehidupannya menuju kehidupan yang harmonis. Kunci menuju sukses secara umum, Zakiyah Darojat (1980) mengemukakan: mengenali diri sendiri, menentukan cita-cita, membuat program kerja, dicapai setahap demi setahap dan berkonsultasi dengan orang yang ahli.
Beliau adalah murid dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo ( Pendiri PSHT ). R.M. Soetomo Mangkoedjojo adalah seorang Pendekar Tingkat III , R.M. Soetomo Mangkoedjojo disyahkan menjadi pendekar tingkat I pada tahun 1928. Berikut murid – murid Ki Hadjar Hardjo Oetomo yang disyahkan pada tahun 1928 adalah sebagai berikut :
- Bapak Soetomo Mangkoedjojo ( Madiun )
- Bapak Hardjosajano alias Hardjo Girin ( Kepatihan Madiun )
- Bapak Moch Irsad ( Madiun )
- Dewan pengesah : Ki Hadjar Hardjo Oetomo
- Pelaksanaan Pengesahan : Di kediaman Ki Hadjar Hardjo Oetomo, Desa Pilangbango Madiun.
Kemudian pada tahun 1936 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mendirikan Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Ponorogo, dan pengesahan pertama dilakukan pada tahun 1938 yang mengesahkan sebanyak 4 orang.
Pada tahun 1948 beberapa murid Ki Hadjar Harjo Oetomo antara lain Soetomo Mangkoedjojo, Darsono, Suprodjo, Hardjo Giring, Gunawan, Hadisubroto, Hardjo Wagiran, Letnan CPM Sunardi, Sumadji al. Atmadji, Badini, Irsad dan kawan – kawan mempunyai prakasa untuk mengadakan konfrensi di tempat kediaman Ki Hadjar Harjo Oetomo . Tujuan diadakan konfrensi tersebut adalah untuk merubah / mengganti sifat Perguruan menjadi Organisasi Setia Hati Terate yang mempunyai Anggaran dasar dan Anggaran Rumah Tangga. Setelah Organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate dikukuhkan menjadi suatu organisasi maka di pilihlah R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai ketua dan Bapak Darsono sebagai wakil ketua.
Kemudian pada tahun 1953 karena pekerjan beliau dipindah tugaskan ke Surabaya selanjutnya Ketua Persaudaraan Setia Hati Terate diserah terimakan kepada bapak Irsad.
Pada tahun 1958 R.M. Soetomo Mangkoedjojo mengesahkan Sdr. R.M Imam Kussupangat, Sdr. Kuswanto. BA dan Sdr. Harsanto. SH menjadi warga tingkat I, pengesahan dilakukan di Oro – Oro Ombo Madiun di rumah Bapak Santoso.
Pada tahun 1963 R.M. Soetomo Mangkoedjojo melatih langsung Sdr. R.M Imam Kussupangat tingkat II. Dan pada tahun 1964 Sdr. R.M Imam Kussupangat disyahkan menjadi warga tingkat II, pengesahan dilaksanakan di Jl. Diponegoro 45 Madiun oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Dewan Pengesah.
Pada tahun 1966 Sdr. R.M Imam Kussupangat mulai menjalani latihan tingkat III karena dianggap berhak untuk menerima ilmu Setia Hati tingkat III oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo. Dimana ilmu tersebut berdasarkan “Wahyu” dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Semenjak itu Sdr. R.M Imam Kussupangat dimulai latihan tingkat III dilatih dan disyahkan oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo ( sebagai Ketua Dewan Pusat dan Dewan Pengesah ). Maka dari itu Sdr. R.M Imam Kussupangat tidak lepas sedikitpun peranan dan bimbingan dari R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai pelatih atau disebut sebagai guru dalam pendidikan tingkat II maupun tingkat III
Tahun 1974 diselenggarakan Musyawarah Besar ( MUBES ) I Persaudaraan Setia Hati Terate dengan kesepakatan mengangkat R.M. Soetomo Mangkoedjojo sebagai Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate dan R.M. Imam Kussupangat sebagai Ketua Umum Pusat.
Pada tanggal 14 Desember 1975 R.M. Soetomo Mangkoedjojo wafat dan dimakamkan di Makam Cangkring Madiun.
Berikut adalah kedudukan yang pernah dipegang oleh R.M. Soetomo Mangkoedjojo dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate
- Tahun 1948 adalah Ketua Umum Pusat yang pertama Persaudaraan Setia Hati Terate ( dari “ perguruan “ menjadi “ organisasi “ )
- Tahun 1956 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate,
- Tahun 1964 Ketua Umum Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate
- Tahun 1974 Ketua Dewan Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate
Demikian sedikit perjalanan hidup tentang R.M. Soetomo Mangkoedjojo, mudah – mudahan dengan sedikit catatan ini bisa membantu untuk tambahnya pengertian dan pengetahuan kita semua agar wawasan sejarah berdirinya Persaudaraan Setia Hati Terate sampai dengan perkembangannya dapat kita ikuti dan ketahui bersama secara tepat dan benar.
Nb : Di kutip dari buku
“ Sejarah Singkat dan Perkembangannya PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE “
disusun oleh : BAMBANG TUNGGUL WULUNG JUDHYASMARA
- NIW. 630100002
- PUTRA KANDUNG R.M. SOETOMO MANGKOEDJOJO
- PEMBIMBING & PEMBINA PADEPOKAN “WESI AJI” ( WEDAR SILAT AMONG JIWO ) PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE SEMARANG

Aura semiotika (ilmu tanda) dari macam-macam syarat (ubo rampe) dalam sebuah konsep ritual peringatan dalam masyarakat Jawa merupakan sebuah pesan yang tersandikan.Berangkat dari sebuah local genius , nenek moyang telah memberikan pesan-pesan yang terselubung, tinggal bagaimana kita mampu memahami dan memaknai dari tiap pesan yang “sengaja” dikirimkan oleh para leluhur untuk kita agar lebih mencintai dan mengambil manfaat dari hasil sebuah warisan budaya. tentang apa saja dan bagaimana makna dari Ubo Rampe berikut ulasannya
Ubo Rampe (konsep merujuk peralatan dan semua piranti juga syarat melakukan sebuah ritual/ kegiatan)
Setiap acara peringatan ulang tahun, atau apapun dalam kelompok-kelompok sosial masyarakat jawa biasanya tumpeng selalu menjadi syarat ritual. Tidak hanya saat memperingati hari ulang tahun seseorang, tumpeng juga menyertai acara ulang tahun lembaga baik peresmian, kenaikan pangkat sampai acara wetonan. Dalam upacara itu, tumpeng dipotong (seharusnya dibelah) dan diberikan kepada generasi penerus. Biasanya tumpeng yang disajikan adalah tumpeng robyong. Lalu apakah ini sekadar gagah-gagahan atau mempunyai makna?
Tumpeng robyong merupakan lambang manusia yang taat beragama dan giat bekerja. Selain tumpeng robyong, ada sekitar 40-an benda yang selalu menyertai sebuah ritual upacara sebagai sesaji, terutama dalam acara ritual yang diadakan oleh keraton. Setiap barang ataupun benda mempunyai makna tersendiri. Agaknya semua ubo rampe tersebut memiliki aura konstruksial makna. :
Cengkir atau buah kelapa hijau dan kelapa gading yang masih muda, merupakan lambang keandalan pikiran dan kekuatan batin. Maksudnya, dalam bertindak, kita tidak boleh hanya mengandalkan pikiran dan fisik, tetapi juga hati dan akal budi.
Kembar Mayangmelambangkan sepasang manusia yang mantap lahir batin dan siap menyemaikan bibit-bibit manusia unggul generasi berikutnya.
Pusaka Keris adalah lambang keberanian dan percaya diri. Berani dan percaya bahwa Tuhan akan menolong siapa pun yang menegakkan kebenaran.
Bubur. Berbagai jenis bubur biasanya disediakan, seperti bubur Sura, bubur Sengkala, dan bubur Pancawarna, yang merupakan lambang cikal bakal manusia. Bubur ini dimaksudkan agar kita selalu ingat proses kelahiran bayi sehingga timbul rasa hormat pada ibu dan ayah serta Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu juga harapan agar kita bisa mengendalikan nafsu angkara.
Sekapur Sirihmelambangkan segala persoalan yang dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. Maksud dari penyajian sekapur sirih ini adalah agar kita selalu siap dan kuat dalam menghadapi segala cobaan dan benturan dalam hidup.
Kembang Setaman adalah lambang sosialisasi diri. Maksudnya agar kita selalu berusaha menjaga harumnya nama diri, kerabat, dan teman.
Kembang Pancawarnayang terdiri dari melati, mawar merah, (kantil) gading putih, gading kuning, dan bunga kenanga, melambangkan cinta kasih yang selalu berkembang dan harum mewangi.
Santan Kanil (kental) merupakan lambang sari-sari kehidupan dan juga susu ibu. Dimaksudkan agar kita selalu mengingat jasa dan pengorbanan ibu yang telah melahirkan kita.
Damar Kembang dibuat dari kelapa yang sudah dibuang serabut dan batoknya, lalu dilubangi bagian yang merupakan bakal tunas, diisi dengan minyak kelapa dan diberi sumbu dari sobekan kain dan dinyalakan. Ini merupakan lambang kehidupan, dimaksudkan agar kita selalu mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang diridloi oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Air Putihlambang kesucian. Agar kita selalu bersih, baik lahir maupun batin.
Lambang Kerukunan
Selain tumpeng, biasanya juga muncul berbagai kue basah yang biasa disebut jajan pasar. Kue ini ditata dalam satu wadah yang melambangkan kerukunan dan persatuan dari berbagai suku dan manusia. Nasi yang disajikan pun terdiri dari empat macam, yaitu nasi kuning, nasi brok, nasi byar, dan nasi golong. Semua nasi-nasi tersebut melambangkan bibit manusia generasi mendatang. Maksudnya agar kita hati-hati dan penuh perhatian dalam “membuat” keturunan sehingga menghasilkan generasi yang unggul.
Panggang Ayam dan Ingkung (ayam goreng utuh) adalah lambang ayah- ibu dan pengorbanan selama hidup mereka dalam membesarkan kita. Sesaji ini dimaksudkan agar kita hormat pada orangtua dan mencintai sesama dengan ikhlas, seperti kedua orangtua mencintai kita.
Pisang Raja Talun Setandar merupakan lambang keberhasilan. Maksudnya agar kita mempunyai tujuan hidup atau cita-cita yang berguna bagi nusa, bangsa, dan sesama serta berusaha meraihnya sampai berhasil.
Sekat Padimelambangkan manusia yang berisi, baik lahir maupun batin.
Buah Buahan, dari yang mentah sampai yang matang merupakan lambang dari proses pematangan diri manusia. Pematangan diri yang mengikuti proses alam dan tidak karbitan akan menghasilkan pribadi yang kuat. Berbagai macam daun, mulai daun kluwih, daun pohon beringin, daun andong dan puring, melambangkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, kita harus selalu ingat kepada-Nya dengan selalu melaksanakan segala perintah-Nya.
Tebu Wulungmelambangkan kekuatan dan kemantapan batin. Diharapkan, budi pekerti dan kepribadian kita kukuh dan tegak seperti tanaman tebu tersebut.
Janur Kuning merupakan lambang cahaya terang. Agar kita selalu mendapatkan jalan yang lurus dan diridloi Allah dalam menjalani hidup ini. Tajali nur.
Taplak Kain Mori berwarna putih melambangkan kesucian. Dimaksudkan agar segala tindak tanduk kita didasarkan pada hati dan pikiran yang suci bersih, tidak dikotori oleh kecurigaan.
Payung Agungmerupakan lambang perlindungan. Ditujukan kepada pamong atau pejabat agar selalu melindungi rakyatnya dari “hujan” dan “panas” kehidupan.
Tombak melambangkan kewaspadaan. Kita diharapkan untuk selalu waspada dalam menghadapi segala kemungkinan yang mengancam kelangsungan hidup kita.
Dupa Ratus dan Wawangian merupakan lambang ketentraman. Dengan menjaga nama diri, keluarga, negara, dan bangsa, diharapkan hidup kita akan nyaman dan tentram.
Umbul umbul dari pohon bambu dihiasi janur kuning melambangkan kebesaran Tuhan Yang Maha Agung. Selain itu juga agar kita selalu ingat dan melestarikan budaya yang telah diturunkan oleh nenek moyang.
Kiranya seperti itulah aura semiotika dari macam-macam syarat (ubo rampe) dalam sebuah konsep ritual peringatan dalam masyarakat Jawa.Berangkat dari sebuah local genius , nenek moyang telah memberikan pesan-pesan yang terselubung, tinggal bagaimana kita mampu memahami dan memaknai dari tiap pesan yang “sengaja” dikirimkan oleh para leluhur untuk kita agar lebih mencintai dan mengambil manfaat dari hasil sebuah warisan budaya.
Dari berbagai sumbe

